Islam berargumen dari akal dan dari alam: alam semesta yang memiliki permulaan membutuhkan sebab, keteraturan dan keseimbangannya yang halus menunjuk pada perancang, dan manusia memiliki naluri alami tentang Penciptanya (fitrah). Al-Qur'an bertanya, 'Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan?'
Jawaban lengkap
Al-Qur'an berulang kali mengajak manusia memperhatikan pergantian malam dan siang, hujan yang menghidupkan bumi yang mati, penciptaan manusia dan bintang-bintang, sebagai tanda bagi orang-orang yang berpikir. Al-Qur'an tidak meminta keyakinan buta: ia meminta perenungan. Para filsuf Muslim mengembangkan argumen seperti argumen dari permulaan alam semesta dan dari kebergantungan (kontingensi), yang kemudian memengaruhi para pemikir Eropa.
Umat Muslim juga mengatakan bahwa Allah dikenal melalui pengalaman: melalui salat, kelegaan setelah kesulitan, dan ketenangan yang datang dari mengingat-Nya. Bukti itu bermacam-macam dan mungkin tidak memuaskan orang yang sudah memutuskan sebelumnya. Umat Muslim mengajak para pencari yang jujur untuk mengajukan pertanyaan, membaca Al-Qur'an, dan memohon petunjuk kepada Allah dengan tulus.
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
Jawaban ini mengikuti pemahaman Sunni arus utama dan merupakan pembelajaran umum, bukan fatwa. Jika umat Muslim berbeda pendapat, jawabannya menyebutkannya. Punya pertanyaan sendiri? Tulis kepada kami.